Biasa Karena Terbiasa

0
59

“InshaAllah saya akan berusaha lebih baik lagi”, kalimat yang kebanyakan diucapkan oleh relawan binaan ketika menerima rekap hasil perubahan karakter setiap dua minggu sekali.

Kalimat tersebut kebanyakan diucapkan oleh relawan yang masih pemula, sehingga masih terasa tidak mudah membangun kebiasaan tersebut, tapi bagi ku kalimat tersebut sangat membahagiakan hati, karena menunjukkan masih adanya keinginan untuk berubah lebih baik.

Setiap hari para relawan binaan mengirim laporan via SMS atau WA tentang empat hal kebiasan IBADAH yang mereka upayakan setiap harinya.

PERTAMA, berkaitan dengan sholat wajib, sholat rowatib, sholat dluha, dan sholat tahajud, apakah kemarin mereka berhasil mengerjakan. Ini berkaitan upaya mereka memperbaiki kualitas ibadah, atau dengan kata lain meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Pembiasaan pertama ini seharusnya sudah dibangun ketika mereka masih pelajar, sebagaimana Rasulullah SAW mengijinkan dengan mengingatkan sedikit keras kepada anak yang berumur 10 tahun untuk sholat. Kenyataan banyak para relawan (mahasiswa atau sudah lulus) yang masih bermasalah dengan pembiasaan yang pertama tersebut, sehingga masih penuh lubang-lubang sholat mereka.

“Kita tidak bisa menyalahkan orang tua kita jika sholat kita masih berlubang-lubang walaupun itu dulu tanggung jawab pendidikan dalam keluarga”, jelas ku kepada para relawan.

“Sekarang itu menjadi tanggung jawab pribadi kalian sendiri. Jadikan upaya menjalankan sholat lebih baik sebagai kado kita kepada orang tua kita”, semangat ku kepada mereka.

KEDUA, kebiasaan membaca Al-Qur’an beserta artinya, apakah kemarin mereka melakukannya. Para relawan kebanyakan mahasiswa yang setiap hari sibuk dengan bacaan diktat kuliah dan buku-buku ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan mereka, maka akan sangat disayangkan jika sehari saja mereka terlepas tidak membaca Al-Qur’an yang merupakan sumber dari segala petunjukan dan pengetahuan yang berupa kalam Ilahi, sehingga sangat jauh sekali kualitasnya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan buku-buku karya manusia.

Bersyukur apabila dahulu ketika mereka masa kanak-kanak dan remaja dibimbing orang tua untuk membaca Al-Qur’an, sehingga selanjutnya tinggal menambah membiasakan untuk membaca arti atau terjemahnya saja. Usia para relawan sangatlah tepat untuk menelaah isi Al-Qur’an dengan tidak sekedar membaca tartil nya saja, tapi juga memahami artinya sehingga bisa menjadi pedoman dalam menghadapi semakin kompleksnya kehidupan seiring mereka beranjak dewasa.

“Sudahlah upayakan membaca sambil belajar. Jangan tunggu bisa dulu baru membaca. Lakukan saja nanti akan dimudahkan oleh Allah SWT”, semangat ku lagi ketika menemukan kenyataan banyak diantara mereka yang belum bisa membaca dengan tartil.

KETIGA, membiasakan Sedekah uang setiap hari kepada siapa saja yang menurut mereka membutuhkan. Membangun kebiasaan peduli dan menyadari harta kita yang sebenarnya adalah harta yang kita sedekahkan, sekaligus mengatur pola keuangan pribadi yang harusnya sudah dibiasakan untuk disedekahi (dikeluarkan zakatnya).

“Jangan bersedekah ala kadarnya dengan seadanya uang untuk disedekahkan. Tetapkan jumlah minimal setiap hari yang akan disedekahkan, maka kita akan lebih bersungguh-sungguh lagi untuk menjadi lebih produktivitas mencapai hasil penghidupan yang kalian harapkan”, ungkapku kepada mereka.

Ternyata banyak yang aku temui bahwa lebih banyak bersedekah dengan pengharapan akan mendapat ganti nantinya, atau terbebas dari suatu masalah yang lagi menghimpit, sehingga sedekah seolah-olah menjadi upaya pembebas dari masalah. Bukannya tidak boleh hal tersebut karena hadits juga mendukung hal tersebut, tapi alangkah baiknya jika nilai sedekah yang akan kita keluarkan menjadi dorongan untuk kita lebih produktivitas lagi supaya bisa tercapai nilai nominal sedekah tersebut.

Jika setiap hari kita bersedekah dengan nilai nominal yang ditetapkan, maka kita akan mengatur keuangan kita menjadi lebih baik. Apalagi jika kita berencana di waktu akan datang akan menaikkan lagi nilai minimal nominal sedekah kita setiap harinya, maka kita bersedekah tidak lagi sekedar berharap dibebaskan dari kesulitan, tapi malah berupaya membantu membebaskan masalah orang lain dengan sedekah kita. Dengan demikian kita akan dipantaskan memimpin banyak orang, atau memiliki usaha yang melibatkan banyak orang, dan tercukupi semua kebutuhan hidup kita dengan rasa syukur yang berlimpah.

KEEMPAT, setiap hari menabung haji yang merupakan kerucut dari upaya perubahan sebelumnya, artinya ibadah haji nanti adalah hasil dari peningkatan kualitas sholat, pemahaman Al-Qur’an sebagai bekal ilmu yang menjadi pedoman hidup, dan sedekah sebagai upaya membangun kepedulian dengan meningkatkan produktivitas.

Jika ingin Haji Mabrur bersiaplah jauh sebelum berangkat dengan melakukan perubahan empat hal tersebut secara sungguh-sungguh. Dikatakan Mabrur karena pasca Haji terjadi lompatan luar biasa perubahan diri, karenanya akan semakin mungkin terjadi apabila kita melakukan perubahan lebih dulu jauh sebelum haji, sehingga kita dipantaskan oleh Allah SWT menjadi Haji Mabrur.

“Memang menurut logika saat ini masih belum terbayang bagaimana cara untuk berangkat haji, tapi seiring waktu perubahan diri yang sungguh-sungguh akan kita temukan jalan-jalan kemudahan untuk berhaji, dan nanti kita akan dibuat keheranan akan hasilnya”, jawabku ketika seorang relawan bertanya apa mungkin dia pergi naik haji.

Sesungguhnya hanya Allah SWT yang bisa memberi petunjuk (hidayah) dan juga hanya Allah SWT yang bisa memberikan kemudahan disetiap upaya hamba-Nya yang ingin berubah menjadi lebih baik.

Ya Allah, kami mohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah kami perbuat. Limpahkan selalu petunjuk-Mu kepada kami, dan mudahkanlah kami untuk menuju keridloan-Mu. Aamiin ya robbal ‘alamiin. • (Jakarta, 17/01/2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here