Hembusan Angin

0
52

Tanpa terasa kelelahan di wajahnya sirna, padahal selama tiga hari ini dia harus berpindah antar kota, bahkan antar propinsi. Beberapa hari yang lalu terasa penat sekali pikiran dan badannya, seakan sudah tidak ada lagi alternatif solusi atas masalah yang selama ini dihadapinya.

Sudah jauh hari ingin ia berbagi pekerjaan ini kepada orang lain, tapi menemukan orang yang mau saja susah, apalagi yang punya kemampuan sesuai dengan pekerjaan ini. Siapa sih yang senang bekerja melayani umat? Mungkin jika ditanya banyak yang mau, tapi apakah mau menjalaninya?

Sudah hampir 27 tahun dia merintis lembaga dakwah yang bergerak melakukan pemberdayaan umat. Sebelumnya memilih melayani umat dengan cara membantu karitatif, yaitu sekedar membagi atau distribusi saja bantuan yang diberikannya, tapi kemudian dia memilih pemberdayaan setelah mendapati bahwa tidak adanya lembaga pemberdayaan kepada umat.

Pemberdayaanpun yang dipilihnya adalah melalui jalur pendidikan dengan cara mencetak sekolah-sekolah terbuka bagi anak tak mampu, dan dia fokus ke anak remaja dengan memberikan pelatihan ketrampilan. Saat ini di Jawa Timur sekitar 40 TKB (tempat kegiatan belajar) sudah dirintisnya, bahkan ada di daerah-daerah sulit seperti di Pacitan, dimana mendidik dan melatih anak-anak perahu yang tidak tersentuh pendidikan.

Berapa hari yang lalu dia mendapat pesan singkat undangan pelatihan acara Social Entrepreneur di Kota Surabaya yang ditujukan untuk pondok-pondok pesantren. Dia tertarik hadir karena membahas tentang pemberdayaan umat, dan dia sudah rindu akan forum-forum seperti ini.

Betapa kagetnya ketika ternyata salah satu yang melatih di acara tersebut adalah binaannya ketika masih di kampus Universitas Brawijaya. Dulu dia mengajak banyak adik mahasiswa untuk bakti sosial di daerah Malang Selatan dalam menghadapi pemurtadan masyarakat, dan tidak menyangka salah satu mahasiswa itu sekarang menjadi pelatih pemberdayaan, bahkan juga mendirikan lembaga pemberdayaan di lima propinsi.

Kurang lebih dia membinanya selama 7 tahun, dan masih ingat dibenaknya masa-masa sulit yang dihadapinya bersama adik-adik binaan. Program utamanya saat itu mendirikan masjid atau musholla di sepanjang daerah pantai selatan wilayah Malang dan Blitar. Semula tidak ada satupun masjid atau musholla, tapi hari ini telah tumbuh beratusan masjid dan musholla.

“Bapak Ibu perkenalkan senior saya, yang membina saya ketika saya masih mahasiswa…”, ucap adik binaan dari depan ruang pelatihan sambil menyebut namanya. Spontan dia berdiri membalas sambutan dari puluhan peserta pelatihan yang umumnya adalah para Kyai dan Ustadz dari pondok-pondok pesantren.

Seketika terasa hembusan angin yang luar biasa menghangatkan dirinya, seolah hatinya berkembang lebar, dan tak terasa air matanya perlahan meleleh haru. Bukan sambutan para Kyai dan Ustadz yang membuatnya bangga, tapi senyum dari adik binaannya. Senyum yang dirindukan, kerinduan yang telah tertahan berpuluh-puluh tahun.

Apakah seperti ini yang dirasakan oleh seorang ibu ketika melahirkan anaknya, setelah sembilan bulan masa penantian dengan segala penderitaan telah ditebus dengan kelahiran sang buah hati. Hari ini hatinya sangat berbunga karena telah melahirkan seorang yang juga memilih jalan pemberdayaan seperti dirinya. Jalan berliku yang tidak banyak dipilih oleh siapapun insan di muka bumi ini.

“Wah luar biasa penjenengan (anda) telah berhasil melahirkan pemberdaya…” ucap dan jabat tangan beberapa orang kepadanya selama pelatihan.

“Bagaimana caranya bisa mendidik seperti itu?” tanya beberapa orang.

Dijawabnya dengan senyum bahagia saja, karena dia sendiri juga nggak tahu jawabnya. Menurutnya itu pekerjaannya Allah SWT, dia hanya mengantarkan saja.

“Saya banyak belajar dari komitmen beliau dalam bertahan di pemberdayaan. Beliau tidak pernah sejengkalpun mundur dari memberi solusi buat umat,” malah adik binaannya yang menjawabnya.

Di sela-sela perbincangan ketika jeda istirahat pelatihan, tiba-tiba ada seorang Kyai yang memimpin empat pondok pesantren berkata, “Kebahagian tertinggi pemimpin adalah melahirkan pemimpin baru”.

Kata-kata itu sangat tepat, itu kebahagiannya dirasakannya hari ini, melahirkan seorang pemimpin. Seorang yang berani idealis untuk melakukan pemberdayaan umat. Semangat kembali menghentaknya, rasa syukur yang sangat dahsyat, kelelahan yang panjang telah terbayar dengan kebahagiannya yang tak terhingga.

“Ya Allah yang Maha Berkehendak yang mampu mewujudkan apapun… Jadikan anak cucu kami para mujahid (perjuang) pemberdayaan yang membela dan melayani umat… Limpahkan kemudahan, pertolongan, dan keberkahan bagi para mujahid pemberdayaan dimanapun mereka ini saat berada… Jadikan mereka pemimpin-pemimpin kebaikan bagi umat… Aamiin ya robbal ‘alamiin” • (Deddy Wahyudi/Surabaya, 13/03/2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here